Aku juga ingin menikah kok !


Once upon a time
Eh bukan mau bikin cerita fiktif, kali ini aku mau meluapkan banyaknya komentar, pertanyaan, atau bagusnya itu adalah bentuk kepedulian seseorang terhadapku yang memasuki telinga dan kemudian bersarang di otak dalam kurun waktu tahunan. Ke(terlalu)pedulian lebih tepatnya.
Mungkin lebih dari lima tahun ini.
Tak hanya di otak saja, semua itu pernah memasuki hati ini dan hampir merusaknya, mungkin sampai saat ini.
Hanya saja, sekarang aku sudah mulai menemukan vaksin yang bisa menguatkan tanganku untuk menutupi telinga ini.
Namun ku masih bisa mendengar
Maka aku harus menemukan vaksin lain agar hati ini semakin kuat dan tak ada rasa benci kepada mereka,  sang empunya mulut pemberi komentar itu.
FYI, 2019 ini usiaku adalah 28 tahun.
***
Sudah sejak lama aku senang menghadiri sebuah seminar dan sudah hampir setahun ini aku mulai sering mengikuti seminar-seminar mengenai bisnis, digital marketing dan kelas memasakpun aku ikuti.  Bahkan jika ada seminar parenting-pun, kalau aku mau, aku akan daftar walaupun aku belum punya anak bahkan menemukan calon suami saja aku belum bisa hehe.
Oiya, seminar yang aku ikuti hampir semuanya gratisan. Ada yang berbayar tapi ga akan lebih dari harga sebotol foundation Huda Beauty kok.
 Asalkan kita rajin mencari informasi.
Eh tak perlu usaha keraspun informasi mengenai seminar gratisan itu selalu saja ada.
Tuhan tau yang aku butuhkan.
Tuhan yang telah mengatur segalanya.
Informasi seminar gratisan ini bisa datang dari mana aja, dari teman, info dari grup Whatsapp seminar sebelumnya dan media social. Ya, aktivitas kita di internet terekam otomatis sehingga akan merekomendasikan post-post yang menurutnya adalah minat dan focus kita.
Ketika kita nge-like satu poster seminar, maka platform-platform itu bakalan merekomendasikan info dan menampilkan iklan seminar lainnya, misal.
***
Aku punya alasan sendiri kenapa aku banyak banget ikutan seminar, workshop, pelatihan atau apapun itu.
Pertama, aku pengangguran.
Aku MUA sih,
Iya, Makeup Artist.
 Tapi sekarang aku gamau lagi menyandang gelar profesi itu. bakalan aku jelasin deh lain kali alasannya. Kalo disini, aku masih bingung nanti masuk ke tujuan utama tulisan ininya itu bakalan darimana dan seperti apa. Karena tujuan tulisan ini adalah hal lain diluar keprofesian aku sebagai MUA hehe
Kedua, ketika masih “MUA” itu, masih banyak waktu luang juga sih buat ikut-ikutan kelas.
Ketiga, aku masih ingin berkembang. Karena aku tidak terlalu suka membaca, maka cara lain untukku belajar adalah ikut kelas. Sekalian biar ga melulu goler-goler di kasur yekaann.
Keempat, jumlah teman yang makin hari makin surut mengharuskan aku mencari teman baru, karena kita mahluk social kan.  Ya minimal setiap seminar aku dapet satu temen baru. Walaupun kadang di seminar itu orang-orangnya masih itu-itu aja. Hehe
Pokoknya kalo digabungin kita bisa bikin genk seminar hunter atau seminar mania gitu.
Haha
Kelima, tentunya mengatasi rasa jenuh. Bingung juga kan kalo kita gaada kegiatan. At least badan ini bisa gerak dikit dengan ngegas si motor maticku sekitar 30 menit atau bahkan 2 jam menuju lokasi seminar.
Karena kalo gaada kegiatan sama sekali, diem goleran dikasur itu bikin otak mikir yang macem-macem. Kepikiran sama cucian haha
Buruknya adalah kepikiran sama komentar-komentar dan ke-terlalu-peduli-an teman terhadap hidup kita selama ini.
Aku gakan menyalahkan syaiton 100 persen. Karena itu salah kita juga kenapa kita memberi kesempatan buat dia.
***
Nah,
Itu vaksin yang kumaksud.
Menyibukan diri dengan belajar. Pengennya menyibukkan diri dengan travelling. Tapi belum ada kesempatan untuk itu. Kesempatan waktu udah banyak, hanya kesempatan materi yang belum siap hehe
Biar pikiran makin terbuka, wawasan semakin luas, circle pertemanan makin luas dan kemudian mereka menambah insight-insight tentang nilai-nilai kehidupan ini.
Eaakkk
Tanpa bermaksud mengeliminasi si teman yang terlalu-peduli itu, aku senang menemukan orang baru dengan insight yang baru. Biar dipikiran dan hati ini ga melulu berisi tentang segala komentar dan pertanyaan ke-terlalu-peduli-an mereka. Even better kalo bisa disingkirkan.
Masih berteman kok. Tenang saja.
Aku bukan seorang teman yang habis-manis-sepah-dibuang. Hanya saat ini aku lebih bisa menentukan mana yang baik untukku dan mana yang bisa meracuni diriku juga mana yang akan membuatku nyaman.
Kan udah dewasa, udah 28 tahun.
Ahhhhh
Ada ungkapan yang menyebutkan usia hanyalah angka.
Iya itu bener.
Tapi ada loh manusia yang merasa insecure diberi pertanyaan tentang angka yang kumaksud.
Susah emang ya kalo aku bikin tulisan fiktif. Langsung study case aja lah ya yang objeknya adalah diriku sendiri.
Kalo diatas tadi kamu udah banyak membaca kata “komentar dan pertanyaan ke-terlalu-peduli-an seorang teman” maka sekarang udah saatnya aku menjelaskan maksud dari kata-kata itu.
Jadi gini,
Udah aku sebutin juga kan kalo usiaku 28 tahun. Inget ! dan aku kini udah punya vaksin-masa-bodo kalo orang nanya umur. Terlebih ketika dikaitkan dengan marital status ku.
Ya itu yang aku maksud.
-Aku belum menikah-
Aku udah bodo amat. tapi kalo keingetan sama komentar dan pertanyaan ke-terlalu-peduli-an di masa lalu, itu yang bikin baper dan bisa meruntuhkan mooku kalo aku keingetan sama komentar dan pertanyaan yang muncul dari orang terdahulu, teman yang memang peduli. Tapi malah bikin baper.
Nanti aku jelasin kenapa dan aku yakin kamu akan mengerti.
***

Bagiku sebenarnya masa krisis diberikan komentar dan pertanyaan-pertanyaan itu adalah 2 tahun yang lalu, di usia 25-26 gitu. Berarti sebenarnya dan seharusnya saat ini aku sudah melewati masa-masa krisis itu. Tapi masalahnya adalah masalah tersebut belum terselesaikan,
Ya, di usia 28 ini aku masih saja belum menikah.
Bahkan ketika ada teman-teman sebayaku yang sudah sibuk mengurus pendaftaran sekolah anaknya, yang sharing foto-foto MPasi anak keduanya, dan sayangnya ada juga yang sedang mempersiapkan pernikahannya yang kedua setelah perceraiannya, aku malah sibuk dengan apa yang mereka sebut “hal sia-sia”.
Tak apa.
Disisi lain, bersyukurnya aku karena tuhan mempertemukanku dengan perempuan-perempuan sebaya bahkan yang mungkin 5 atau 6 tahun diatasku yang juga belum dipertemukan dengan jodohnya.
Ga cuma satu, kami ada banyak.
Aku punya teman senasib
Aku punya Geng hehe
Kalo aku buat daftar riset, sebenarnya banyak hal positif, banyak hal baik yang ada pada diri mereka. Mereka perempuan yang baik, cantik, sholehah, mandiri dan sudah sangat istri-able bahkan ibu-able. Dari mereka juga aku banyak belajar untuk memperbaiki diri agar aku-pun bisa menjadi perempuan yang istri-able dan ibu-able..
Kami bahagia, walaupun terkadang kamipun mengeluh dengan komentar dan pertanyaan ke-terlalu-peduli-an orang lain itu, terlebih mereka yang merasa sudah jauh melangkah di-depan kami, mereka yang sudah berstatus menikah.
Tak apa, biarkan mereka bangga dengan apa yang sudah mereka capai. Mungkin memang mereka sudah layak. Tapi kami-pun tak berhenti memantaskan diri agar supaya “menjadi layak”.
Kami bahagia, walaupun dalam malam-malam kami menangis terisak merasa dunia ini tak berpihak pada kami, kebingungan dengan masa depan kami.
Tapi kami punya tuhan.
***
Ada banyak asumsi kenapa aku masih saja belum menikah, bahkan ga juga punya pacar. Mulai dari aku yang terlalu pilih-pilih katanya. Bahkan ada orang yang aku sebut teman. YA, aku masih mengganggapnya teman kok. Bagaimana-pun itu, mereka pernah menjadi bagian dari cerita masa laluku, mengisi masa remajaku, membuat sejarah di hidupku.
Eakk. Udah macem novel yang ngebahas mantan aja ya hehe

Ada teman yang pernah mengira aku sakit.
Maksudku, mereka mengira aku memiliki disorientasi seksual yang maksudnya adalah aku lesbi. Menyukai sesama perempuan ( aku bahkan membenci menuliskan kata itu ditulisanku ini)
Hanya karena aku belum menikah dan tidak pernah update status “lagi sama pacar”, karena emang aku ga punya pacar. hehe
Tidak-kah kamu sakit mendengar tuduhan ini dari temanmu sendiri ?
Teman dekat yang bahkan kamu menceritakan kebusukan dirimu padanya.
Hhhhhh
Menulis ini membuat dadaku sesak.
Masih saja aku sakit hati ketika mengingatnya.
Aku bisa becanda. Hanya ketika becaandaan itu ga tepat waktu, malah bisa menyakitkan.
Iya dia teman, harusnya aku paham bagaimana cara dia bicara
Tapi diapun harusnya mengerti bagaimana “cerita cinta-ku”, bukankah saat itu aku curhat mengenai mantanku dan pacarku dulu ?
Pernah ?
Hhhh bahkan sering.
Dia bahkan tau siapa-siapa aja lelaki yang kusuka pada waktu itu.
Iya, waktu dulu. Karena sekarang dia bukan lagi tempatku bercerita.
***
Jadi, ceritanya dulu kita lagi ngomongin temen-temen cowo kita yang homo. Eh dia dengan ceplosannya bilang “jangan-jangan kamu juga”
DEG
Mungkin ini salah satu kesalahanku juga yang berkutat di dunia-dunia  yang banyak disenangi cowok homo. Aku membenci penyakit itu tapi aku senang dengan mereka karena mereka adalah cowok-cowok baik.
Antara marah dan sedih. Tapi ucapan itu keluar dari mulut temanku.
Mencoba bersikap biasa pada saat itu.
Tapi lama kelamaan ko aku kesel juga. Kepikiran di lain hari.
Kok bisa-bisanya dia nuduh aku. Kan selama ini aku cerita apa-apa juga sama dia.

Aku emang sering banget telat untuk menyadari mengenai suatu perasaan.
Seperti perasaan kesal dan marah ini kusadari beberapa hari kemudian.
Ga cuma itu, perasaan cintapun akan telat kusadari ketika cowok itu pergi.
Eakk galfok haha

Jadi, aku ga bisa bahas ditempat dan mengklarifikasinya.
Menyadari di lain hari dan kemudian seperti tak ada kesempatan untuk membahasnya lagi karena ketika itu kita udah mulai sibuk masing-masing. Maksudku aku dan temanku itu.
Seperti “yaudah sih, kan udah lama”
Tapi, seringkali teringat lagi dan merasakan sakit hati kemudian, seperti saat ini, ketika aku menceritakannya kepada kalian.
Guys,
Bukan aku gak mau lagi ketemu dia, aku sih ayo aja. Tapi takkan pernah lagi aku cerita sedikitpun tentang hidupku padanya. Dan sudah terjadi, mungkin dia-pun menyadari.
Tapi, sekedar bertanya kabar sih masih oke. Semoga dia sehat.
***
Guys, Aku sudah 28 tahun dan belum menikah tapi bukan berarti aku lesbi
***
Kawan-kawan netijen yang ku hormati.
Kalian orang-orang baru dihidupku yang lebih tidak peduli dengan status pernikahanku. Ada juga sih diantara kalian yang tetiba nanya “udah nikah ?”, ku tak masalah. I’m totally OK with it kan udah divaksin.
Kalian hanya bertanya dan supaya kita sama-sama tau bagaimana kita akan bicara satu sama lain.
Juga
Kalian orang-orang baru yang mungkin bisa saja menjadi  jalan aku menemukan jodoh.
Jadi silahkan bertanya saja
Kamu,
orang-orang lama dihidupku yang kalian-pun bisa saja menjadi jalanku menemukan jodohku, terima kasih atas komentar dan pertanyaan peduli kalian sama aku. Tapi mohon jangan keterlaluan.
Kalian boleh bertanya, tapi mohon pelan-pelan. Maksudku jangan sampai aku merasa terintimidasi. Mohon mengerti karena akupun sudah bosan dengan status ini, sudah jengah dengan pertanyaan itu. Parahnya lagi jangan sampai aku merasa insecure ketika akan dan sedang bertemu kalian.
Kalian sudah banyak tau tentang  -kenapa aku masih saja begini-, tentang cerita pahitku mungkin, dan kalian pasti memahami kalo akupun ingin bahagia, ingin terbebas lepas dari pertanyaan itu supaya kalian ga lagi perlu untuk terlalu peduli terhadap statusku.
***
Guys, Aku sudah 28 tahun dan belum menikah tapi bukan berarti aku lesbi.
***
Aku juga ingin menikah kok.
Hanya saja Tuhan punya rencana-Nya sendiri untuk aku. Dia terlalu baik, sehingga aku diberi kesempatan lebih untuk mengembangkan diri dan mempersiapkan diri.
Dia tahu yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
***
Kamu, yang baca ini dan ngerasa pernah mengira aku seperti itu (aku bahkan benci untuk menuliskannya),
Jika kamu rasa perlu meminta maaf, nomerku masih sama. Karena aku sudah pake nomor ini hampir 11 tahun dan aku rasa aku gaakan pernah menggantinya.
Akupun pasti punya salah sama kamu
tapi maafkan aku atas goresan luka darimu yang belum bisa aku lupakan dan aku ikhlaskan.
atau
Jika kamu rasa tak perlu meminta maaf karena akan membuat awkward situation kalo kita dikasih kesempatan bertemu lagi, doakan saja aku biar aku siap dan layak untuk dijadikan seorang istri oleh seseorang yang terbaik yang masih Tuhan rahasiakan untukku
karena
aku juga ingin menikah kok !


0 Comments