JAGA PRIVASIMU Part 2 : Saring Sebelum Sharing

Masih edisi seminar #JAGAPRIVASIMU, kalo sebelumnya aku share mengenai materi yang disampaikan oleh speaker pertama, yaitu Ryan Rahardjo selaku Public Police and Government affairs Manager Google Indonesia yang bisa kalian baca disini, speaker selanjutnya adalah  Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat yaitu Pak Setiadji, ST., M.Si.

Menurut beliau, dari 268 juta pengguna internet aktif di Indonesia, 50 jutanya adalah pengguna internet aktif di Jawa Barat. Namun ternyata telepon seluler yang beredar di Indonesia lebih banyak yaitu sekitar 355 juta. Ini mengindikasikan bahwa banyak warga Indonesia yang memiliki telepon seluler lebih dari satu, bisa dua bahkan 3 telepon seluler.

Besarnya pengguna internet ini berarti besar juga penyebaran informasi data pribadi yang berpeluang untuk mendapatkan pelanggaran privasi seperti penyalahgunaan oleh oknum yang tidak berkepentingan.

Salah satu contoh nyatanya yang saat ini sedang banyak terjadi yaitu peer to peer lending, yang mana data diri akan diberikan ketika mengajukan pinjaman. Akan tetapi, apabila pihak debitur mengalami kemacetan dalam pemenuhan kewajibannya tersebut, semua data atau nomor kontak yang ada di HP debitur akan dihubungi oleh kreditur untuk membantu "menagih" kepada si debitur.

Pak Setiadji juga memberikan wejangan untuk kita supaya tidak sembarangan menyebarkan foto di internet. Seperti foto selfie kita yang bisa saja digunakan oleh oknum untuk melakukan penipuan dengan mengatasnamakan dan menggunakan foto kita tersebut. Kemudian, saat ini banyak aplikasi yang mengharuskan kita mengunggah foto selfie dengan memegang KTP untuk sign up, ini juga perlu hati-hati. Kemudian sebaiknya kita jangan pernah mengunggah foto boarding pass kita, karena di boarding pass ini ada identitas diri kita di dalamnya.

Menurut Beliau juga kita perlu memahami 4 poin penting untuk menjaga keamanan privasi, yaitu :
  1. Knowledge, yaitu kita perlu memiliki pengetahuan standar keamanan privasi dan penyebaran data diri
  2. Skill, yaitu kemampuan untuk mendeteksi tingkat keamanan privasi dan data diri
  3. Value, yaitu kita diharapkan mampu untuk mengupgrade kesiapan kita menghadapi era 4.0
  4. Attitude, yaitu mengenai etika yang baik bagi kita dalam hal penyebaran data diri, tidak memposting konten yang bisa membahayakan keamanan privasi kita
Saat ini undang-undang mengenai keamanan privasi individu di internet belum disahkan, sehingga diri kita sendirilah yang harus mengontrol aktifitas kita di dunia maya supaya tidak menjadi bumerang buat kita sendiri karena jejak digital bisa menjadi bukti yang abadi. Walaupun kita sudah menghapusnya, datanya tetap terekam di dunia maya.

***

Setelah pemaparan dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat, speaker selanjutnya adalah Bunda Literasi Jawa Barat yaitu Bu Atalia Praratya Kamil, istri dari Gubernur Jawa Barat yaitu Ridwan Kamil.



Pemaparan Bu Atalia lebih banyak menyinggung persoalan sosial masyarakat dan cerita faktual di masyarakat dengan aktifitasnya di media sosial.

Beliau merupakan public figure yang juga merupakan pengguna aktif media sosial sangat merasakan dampak yang luar biasa, baik dampak yang positif maupun negatif. 

Dengan media sosial, Bu Atalia bisa mendapatkan informasi dari masyarakat dengan cepat, begitupun sebaliknya ketika beliau menyampaikan informasi, akan tersebar dengan sangat cepat.
Adapun dampak negatif yang sering beliau dapatkan adalah foto beliau yang dengan mudah bisa tersebar dimana-mana, bahkan sering dijadikan meme atau digunakan oleh suatu instansi demi kepentingan instansi tersebut tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada Beliau.

Cerita lain dari beliau adalah banyaknya akun kloningan beliau. Jika akun tersebut menyebarkan informasi yang baik dan benar maka itu bukan masalah. Tapi beliau berharap akun kloningan itu tidak memberikan informasi-informasi yang tidak benar.

Karena beliau memberikan banyak contoh kasus, aku bikin perpoin aja deh ya :D

  • Beberapa bulan lalu heboh dengan informasi adanya skandal kebocoran 27 juta data pengguna Facebook yang terjadi sejak tahun 2016. Selain skandal kebocoran data pengguna Facebook, kebocoran data bisa terjadi di platform manapun dan dampaknya bisa membahayakan seperti disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. 
  • Banyak dari kita yang sering mendapatkan SMS penawaran pinjaman online, oknum tersebut mungkin saja mendapatkan nomer HP kita itu merupakan imbas dari adanya kebocoran data.
  • Ada kasus orang bunuh diri karena malu data dirinya sebagai orang yang berhutang kepada jasa pinjaman online tersebar. 
  • Ada juga yang namanya scammer cinta. Banyak orang menjadi korbannya, bahkan hingga rugi materi yang cukup besar karena tertipu oleh si scammer jenis ini. modusnya adalah ia menggunakan identitas orang lain di dunia maya untuk membuat korban jatuh cinta dan berjanji akan menikahi. Scammer ini bisa menggunakan identitas seorang tentara atau polisi.
  • Ada juga oknum yang melakukan penipuan dengan modus bahwa si korban menang undian. Korban akan di telpon dan diharuskan memberikan informasi data diri sebagai syarat claim hadian undian tersebut.
  • Ada oknum yang tau seseorang sedang tidak berada di rumah, kemudian ia menelpon ke rumah orang tersebut dan mengelabui orang yang ada dirumah, misalnya orang tuanya dan memberikan informasi palsu bahwa anaknya kecelakaan dan minta transfer uang saat itu juga untuk melakukan tindakan medis terhadap anak tersebut.

Setelah memberika beberapa contoh kasus diatas, Bu Atalia memberika beberapa tips untuk kita agar keamanan informasi data diri kita terjaga, berikut tips-tipsnya :
  • Terapkan pengaturan Private di setiap akun media sosial kita
  • Menyeleksi permintaan pertemanan. Pilih yang benar-benar kita mengenalnya apalagi saat ini banyak sekali akun-akun siluman atau akun bodong yang bisa saja si pemilik akun tersebut bertujuan untuk stalking kita.
  • Jangan menghubungkan akun yang ga jelas dengan akun-akun media sosial kita
  • Jangan share keberadaan kita jiga memang tidak harus dan atau hanya bertujuan untuk gaya-gayaan. Karena bisa saja ada orang yang berniat jahat, ketika tau kita sedang tidak ada di rumah dan rumah kita dalam keadaan kosong, mungkin ia akan masuk ke rumah kita dan mencuri.
  • Bijak dalam bermedia sosial, tidak menyebarkan informasi yang tidak seharusnya disebarkan atau share informasi yang belum valid kebenarannya.
Jargon favorit aku dari Bu Atalia yang kudapat dari seminar #JAGA PRIVASIMU" di Gedung Sate, Rabu, 30 Oktober 2019 adalah "saring sebelum sharing".


Jadi, kita mesti mempertimbangkan lagi ketika akan memposting sesuatu, baik share foto, share aktifitas atau bikin status. pikirkan lagi apakah kontennya tersebut aman dan tidak akan menjadi bumerang bagi kita sendiri

Nah guys, 
udah 3 speakers kan yaaa
Semua materinya sangat bermanfaat dan relevan dengan era saat ini.
Masih ada materi dari speaker-speaker lain yang belum kutuliskan.
so, tunggu di blog aku selanjutnya.

oiya, kalian bisa juga follow blog ku ini supaya dapet notifikasi pas aku ada blog post baru dari ku.

anyway

terima kasih udah baca sampai akhir
sampai jumpa di my next blog post :)



2 Comments

  1. Iya banget. Jadi pengen nyortir lagi temen2 di medsos nih setelah baca artikel ini .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sis. Akupun sedang nyicil. Ceki-ceki barangkali Ada akun Siluman 😁

      Delete